Perilaku Ibu Primipara dalam Merawat Bayi Baru Lahir di Kelurahan XX Kecamatan XX

Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup (Hincllif, 1999). Angka ini merupakan salah satu indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya angka kematian bayi ini dapat menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal dan neonatal kurang baik, untuk itu dibutuhkan upaya untuk menurunkan angka kematian bayi tersebut. SUSENAS (20xx) menunjukkan bahwa AKB di Indonesia adalah 35 bayi per 1000 kelahiran hidup, sedangkan AKB di propinsi xxx mencapai 44 bayi per 1000 kelahiran hidup. Ini menunjukkan bahwa AKB di propinsi xxx masih di atas angka rata-rata nasional. Padahal pada tahun 20xx Indonesia telah menargetkan AKB menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran hidup (dikutip dari kompas 20xx). Rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) Indonesia 20xx-20xx, dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 20xx, mempunyai visi “ Kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan hidup sehat”. Sedangkan salah satu misi MPS adalah mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Perlu adanya program kesehatan ibu dan bayi baru lahir (BBL) yang dapat menurunkan AKB (dikutip dari kompas 20xx).

Keywords: Perilaku, Merawat Bayi

(KODE FILE : DES19)

 

 

This entry was posted on 30/03/2016, in ABSTRAK.

Pengetahuan Keluarga Tentang Perawatan Anggota Keluarga yang Menderita Asma di Rumah di Kabupaten XX Kecamatan XX

Pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap segala sesuatu perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Keluarga adalah pertama dan utama yang harus mendapatkan pengetahuan termasuk mengetahui perannya dalam memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang menderita asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perawatan anggota keluarga yang menderita asma di rumah di Kabupaten xxx Kecamatan xxx. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik purposive sampling terhadap keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang menderita asma, yang berjumlah 80 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner. Data yang telah terkumpul dianalisa kemudian hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada responden dengan pengetahuan keluarga buruk, sedangkan pengetahuan keluarga baik dalam jumlah terbesar yaitu (58,8%), dan responden dengan pengetahuan keluarga cukup (41,3%). Dengan penelitian ini diharapkan kepada semua pihak perlu memahami tentang bahaya penyakit asma dan mewaspadai kemungkinan anak-anak atau anggota keluarga masing-masing terkena penyakit asma yang banyak merengut korban, dan mengetahui akan pentingnya peranan keluarga dalam proses perawatan anggota keluarga yang menderita asma, agar dapat mencegah kekambuhan dan perawatan anggota keluarga saat timbul gejala asma.

Keywords: Pengetahuan Keluarga, Anggota Keluarga, Penderita Asma

( KODE FILE : DES18 )

This entry was posted on 30/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tindakan Kooperatif Anak Dalam Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat XX

Tindakan kooperatif adalah sesuatu yang dapat diobservasi, dicatat dan diukur seperti gerakan, respon individu serta bekerja sama untuk tujuan yang sama. Kadang rasa takut, cemas dan stres dapat dialami anak yang dirawat di rumah sakit. Terapi bermain mampu mengurangi rasa takut, cemas dan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi bermain terhadap tindakan kooperatif anak dalam menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum XXX. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Besar sampel adalah 60 anak dimana 30 anak kelompok intervensi dan 30 anak kelompok kontrol. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Analisa data yang digunakan yakni uji t-test yaitu uji dependen t-test untuk membandingkan tindakan kooperatif pada kedua kelompok sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan (terapi bermain) dan uji independen t-test untuk membandingkan tindakan kooperatif dalam menjalani perawatan pada kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian pada uji dependen menunjukkan bahwa adanya pengaruh terapi bermain terhadap tindakan kooperatif anak sebelum dan sesudah terapi bermain pada kelompok intervensi (p=0,000) dan pada kelompok kontrol menyatakan ada pengaruh terapi bermain terhadap tindakan kooperatif anak (p=0,000). Sedangkan pada uji independen hasil uji statistik bahwa tidak ada pengaruh terapi bermain terhadap tindakan kooperatif pada kelompok intervensi dan pada kelompok kontrol (p=0,528). Terapi bermain menyediakan kebebasan untuk mengekspresikan emosi dan memberikan perlindungan anak terhadap stres, sebab bermain membantu anak menanggulangi pengalaman yang tidak menyenangkan, pengobatan dan prosedur invasif. Oleh karena itu terapi bermain sebaiknya dapat diterapkan dalam perawatan anak di rumah sakit, agar anak lebih kooperatif dalam perawatan dan terjalin hubungan yang baik antara anak dengan perawat.

Keywords: Tindakan Kooperatif, Terapi Bermain

(KODE FILE : DES17)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol di Desa XX Kecamatan XX Kabupaten XX

Pola asuh orang tua adalah merupakan suatu bentuk atau struktur, sistem dalam menjaga, m erawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Membimbing atau mendidik merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol yang mempunyai tingkatan kebiasaan coba-coba, pengguna tetap, dan kecanduan. Populasi penelitian adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan remaja yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol yaitu sebanyak 42 KK. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa XXX Kecamatan XXX. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe pola asuh orang tua demokratis dengan tingkat persentase sebanyak 71,43% dan pola asuh orang tua permisif 19,05% dan pola asuh orang tua otoriter sebanyak 9,52%. Untuk tingkat kebiasaan remaja mengkonsumsi alkohol yaitu 66,67% untuk tingkat coba-coba, 30,95% untuk tingkat pengguna tetap, dan 2,38% untuk tingkat kecanduan. Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja pada tingkat coba-coba dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua demokratis, tingkat pengguna tetap dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua otoriter, dan tingkat kecanduan dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua permisif.

Keywords:Pola Asuh Orang Tua, Kebiasaan Remaja, Mengkonsumsi Alkohol

(KODE FILE : DES16)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Kepuasan Orangtua Terhadap Atraumatic Care Selama Mengalami Hospitalisasi di RSUP XX

Hospitalisasi bagi anak dan keluarga adalah suatu pengalaman yang mengancam dan stressor, keduanya dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga. Umumnya orangtua yang anaknya mengalami hospitalisasi akan bersikap penolakan, ketidakpercayaan akan penyakit anaknya, marah, dan rasa bersalah karena tidak mampu merawat anaknya, rasa takut,cemas,frustasi, dan depresi. Di samping masalah hospitalisasi juga timbul sikap kepuasan dalam menerima pelayanan dari setiap tindakan perawatan yang diberikan pada anak, pelayanan yang diberikan dapat berupa atraumatic care atau perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak. Atraumatic care mempunyai tujuan mencegah atau menimbulkan perpisahan anak dari orangtua, meningkatkan kontrol diri, dan mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. Sikap pelayanan yang diberikan perawat berupa atraumatic care pada anak menimbulkan sikap kepuasan orangtua yang merawat dan menjaga anak selama anak mengalami hospitalisasi. Sikap kepuasan orangtua dapat diwujudkan dalam bentuk penilaian sangat puas, puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Desain penelitian ini yang digunakan adalah deskriptif dengan jumlah sampel sebesar 86 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi dan pernyataan berjumlah 30 buah pernyataan. Hasil penelitian Kepuasan Orangtua Terhadap Atraumatic care Selama Anak Mengalami Hospitalisasi di RSUP XXX, menunjukkan pencapaian kepuasan hingga 89%. Dari pencapaian nilai tersebut maka dapat disimpulkan kepuasan orangtua terhadap atraumatic care selama anak mengalami hospitalisasi adalah orangtua mendapat kepuasan terhadap atraumatic care.

Keywords: Kepuasan, Atraumatic care

(KODE FILE : DES15)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Terhadap Kemampuan Komunikasi Pasien Isolasi Sosial di Ruang Cempaka Rumah Sakit Jiwa Daerah XX

Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan jiwa. Satu diantaranya adalah isolasi sosial, supaya dapat mewujudkan jiwa yang sehat, maka perlu adanya peningkatan jiwa melalui pendekatan secara promotif, preventif dan rehabilitatif agar individu dapat senantiasa mempertahankan kelangsungan hidup terhadap perubahan – perubahan yang terjadi pada dirinya maupun pada lingkungannya. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial, yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial. Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan cara time series yang dilakukan pada 15 orang responden dengan menggunakan instrument observasi dengan masalah utama isolasi sosial. Analisa data yang digunakan yakni t test yaitu uji dependen t test untuk menilai pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi (p=0,000) artinya mempunyai pengaruh yang signifikan. Terapi aktivitas kelompok sangat efektif didalam meningkatkan kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial, sebab itu terapi aktivitas kelompok sosialisasi sebaiknya dilakukan secara reguler di tiap ruang rawat inap RSJ Daerah XXX.

Keywords: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi, Kemampuan Komunikasi, Isolasi Sosial

(KODE FILE : DES14)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Konsep Diri Anak Usia 10-14 Tahun yang Menderita Asma di Poliklinik Anak RSU XX

Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada jalan napas tempat banyak sel ( sel mast, eosinofil, dan limposit T) memegamg peranan. Pada penderita asma dapat terjadi perubahan baik fisik maupun psikologi. Perubahan fisik dan psikologis yang dialami anak penderita asma dapat menyebabkan perubahan konsep diri yaitu citra tubuh, identitas diri, harga diri, ideal diri dan gangguan peran. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang konsep diri anak usia 10-14 tahun yang menderita asma yang dilakukan mulai bulan September hingga November 20xx di Poliklinik RSU. XXX. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, untuk mengidentifikasi gambaran konsep diri anak usia 10 – 14 tahun yang menderita asma di Poliklinik Anak RSU.XXX. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi dan kuesioner konsep diri anak yang menderita asma. Jumlah sampel sebanyak 35 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik Total Sampling. Hasil penelitian mengenai karakteristik responden yaitu paling banyak anak yang menderita asma berusia 10 tahun ada sebanyak 10 orang (28,6%), dan paling sedikit anak berusia 14 tahun ada sebanyak 4 orang (11,4%). Konsep diri anak yang menderita asma pada usia 10-14 tahun paling banyak bersikap negatif ada sebanyak 22 orang (37,1%) dan yang bersikap positif ada sebanyak 13 orang (62,9%), tetapi salah satu komponen konsep diri yaitu ideal diri termasuk memuaskan. Artinya bahwa penyakit asma tidak mempengaruhi persepsi orang lain tentang dirinya. Untuk disarankan bagi praktek keperawatan agar dapat memberikan motivasi dan semangat bagi anak yang menderita asma agar mempunyai konsep diri yang positif, juga menjaga kondisi kesehatannya dengan melakukan pengobatan yang intensif dan dapat memberikan penanganan dari segi kuratif, juga interaksi anak penderita asma dengan lingkungan sosialnya di masyarakat.

Keywords: Anak Usia 10-14 Tahun, Menderita Asma, Konsep Diri

(KODE FILE : DES13)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.