“Studi Tentang Gangguan Pendengaran Pada Pasien Yang Menjalani Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Kategori I Dan Kategori II Di Wilayah Kerja Puskesmas XX”

WHO menyatakan Mycobacterium tuberkulosis merupakan masalah kesehatan dunia yang telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia sehingga WHO mencanakan kedaruratan global. Saat in sudah ditemukan pengobatan yang dikenal dengan OAT. Namun, setelah penggunaan berbagai macam obat memungkinkan juga terjadi efek samping yang lain pada penggunan obat tersebut, misalnya terjadi neuritis perifer, hepatotoksik, ototoksik, nefrotoksik, dan lain-lain.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang pendengaran pada pasien yang menjalani terapi obat anti tuberkulosis (OAT). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 26 Juli sampai 2 Agustus 2009. Besarnya sampel yang diteliti sebanyak 35 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung dengan menggunakan lembar observasi untuk karakteristik demografi, tingkat ketulian, keluhan penyerta. Penilaian tingkat ketulian dilakukan dengan menggunakana audiometri. .

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Deskriptif dengan pendekatan cross sectional studi dimana akan menggambarkan penurunan pendengaran pada pasien yang menjalani terapi obat anti tuberkulosis (OAT) kategori I dan II pada pasien TB Paru, kemudian hasilnya diuji dengan cara Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.

Hasil dari penelitian ini didapatkan fungsi pendengaran pada telinga kanan sebagian besar mengalami tuli ringan (71,4)%, sedangkan pada telinga kiri juga mengalami gangguan tuli ringan (57,1%), ada hubungan jenis OAT dengan gangguan pendengaran penderita tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas XX, dan tidak ada perbedaan gangguan pendengaran penderita tuberkulosis yang menjalani pengobatan terapi OAT antara telinga kiri dan telinga kanan di Wilayah Kerja Puskesmas XX

Saran dari hasil penelitian ini adalah diharapkan kepada Petugas Kesehatan dan Pengawas Menelan Obat (PMO) jangan sampai ada pasien yang drop out atau gagal dalam pengobatan TB. Karena tidak tertutup kemungkinan akan mendapatkan Kategori II dengan injeksi streptomisin yang mempunyai efek sampin gangguan pendengaran, kepada semua penderita TB agar dapat berobat dengan teratu, kepada peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang terkait dengan populasi yang lebih luas dan subjek penelitian yang berbeda  untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, dan kepada peneliti agar dapat mengaplikasikannya dalam memberikan pelayanan keperawatan yang lebih optimal.

Kesimpulan      :  Ada hubungan jenis OAT dengan gangguan pendengaran penderita tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas XX

Kata Kunci       :  OAT Kategori I dan II, Gangguan pendengaran..

Kepustakaan   :  14 (2001 – 2007).

Kode file : KM017
File skripsi ini meliputi :
–    Bagian depan (Sampul, Abstrak, Daftar isi, dll)
–    Bab 1 – 6 lengkap (pendahuluan s/d penutup)
–    Daftar pustaka.
–    Lampiran 2 (Kuesioner,Master Tabel, Power Point, dll)

Bentuk file : Ms.Word