Konsep Diri Anak Usia 10-14 Tahun yang Menderita Asma di Poliklinik Anak RSU XX

Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada jalan napas tempat banyak sel ( sel mast, eosinofil, dan limposit T) memegamg peranan. Pada penderita asma dapat terjadi perubahan baik fisik maupun psikologi. Perubahan fisik dan psikologis yang dialami anak penderita asma dapat menyebabkan perubahan konsep diri yaitu citra tubuh, identitas diri, harga diri, ideal diri dan gangguan peran. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang konsep diri anak usia 10-14 tahun yang menderita asma yang dilakukan mulai bulan September hingga November 20xx di Poliklinik RSU. XXX. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, untuk mengidentifikasi gambaran konsep diri anak usia 10 – 14 tahun yang menderita asma di Poliklinik Anak RSU.XXX. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi dan kuesioner konsep diri anak yang menderita asma. Jumlah sampel sebanyak 35 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik Total Sampling. Hasil penelitian mengenai karakteristik responden yaitu paling banyak anak yang menderita asma berusia 10 tahun ada sebanyak 10 orang (28,6%), dan paling sedikit anak berusia 14 tahun ada sebanyak 4 orang (11,4%). Konsep diri anak yang menderita asma pada usia 10-14 tahun paling banyak bersikap negatif ada sebanyak 22 orang (37,1%) dan yang bersikap positif ada sebanyak 13 orang (62,9%), tetapi salah satu komponen konsep diri yaitu ideal diri termasuk memuaskan. Artinya bahwa penyakit asma tidak mempengaruhi persepsi orang lain tentang dirinya. Untuk disarankan bagi praktek keperawatan agar dapat memberikan motivasi dan semangat bagi anak yang menderita asma agar mempunyai konsep diri yang positif, juga menjaga kondisi kesehatannya dengan melakukan pengobatan yang intensif dan dapat memberikan penanganan dari segi kuratif, juga interaksi anak penderita asma dengan lingkungan sosialnya di masyarakat.

Keywords: Anak Usia 10-14 Tahun, Menderita Asma, Konsep Diri

(KODE FILE : DES13)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Kepuasan Remaja Terhadap Peran Orangtua Dikelurahan XX

Kepuasan remaja terhadap peran orangtua sangat berpengaruh karena kepuasan remaja memberikan gambaran masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang demikian pesat sering kali mengakibatkan timbulnya prilaku menyimpang. Jadi orangtua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan remaja di kelurahan XXX pada tanggal 21 Nopember 20xx, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif yang menggambarkan suatu keadaan atau fenomena tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di kelurahan XXX dengan besar sampel sebanyak 40 responden. Metode pengambilan sampling penelitian ini adalah dengan cara teknik random sampling. Kuisioner penelitian terdiri dari kuisioner data demografi, kepuasan, peran orangtua dalam keluarga. Berdasarkan analisa statistik, hasil penelitian menunjukan bahwa hasil penelitian sebagian besar remaja memiliki kepuasan tentang peran orangtua dalam keluarga (n=21, 52,5%), untuk kepuasan remaja terhadap peran orangtua dalam keluarga memiliki kepuasan cukup (n=16, 40%), dan untuk kepuasan remaja terhadap peran orangtua memiliki kepuasan kurang (n=3, 7,5%). Untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul penelitian ini disarankan untuk meneliti untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara kepuasan terhadap peran orangtua dalam keluarga.

Keywords: Peran orangtua, Kepuasan Remaja

(KODE FILE : DES12)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Diri Ibu Pascasalin di Rumah Sakit Umum XX

Perawatan diri pascasalin adalah perawatan terhadap wanita yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Kurangnya perawatan diri masa pascasalin berhubungan erat dengan kejadian infeksi nifas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin yaitu faktor masa lalu, faktor lingkungan, faktor internal, faktor petugas kesehatan, dan faktor pendidikan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin serta mengidentifikasi faktor apa yang paling dominan dalam mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin. Penelitian ini dilakukan pada 13 November-15 Desember 2009 di Ruang V Obgin Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan terhadap 61 orang responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin serta menggunakan metode korelasi analisa regresi linear ganda dengan sistem backward untuk mengidentifikasi faktor apa yang paling dominan dalam perawatan diri Ibu pascasalin. Hasil penelitian diperoleh 46 responden (75,4%) menunjukkan faktor petugas kesehatan berpengaruh kuat terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin. Faktor yang paling dominan adalah faktor petugas kesehatan dengan nilai F hitung > F tabel (8,376 > 4,00) dan nilai p-value < sig (0,005 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini perawat hendaknya mampu menjalankan peran dan fungsinya sesuai kompetensi dan kebutuhan pasien.

Keywords: Ibu Pascasalin, Faktor Perawatan Diri

(KODE FILE : DES11)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Persepsi Orangtua Terhadap Kemampuan Perawat dalam Melakukan Komunikasi Efektif pada Anak Masa Prasekolah di Ruang XX Rumah Sakit XX

Komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua atau lebih manusia, atau dengan kata lain pertukaran ide dan pikiran. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mengandung pengiriman dan penerimaan informasi yang paling cermat. Komunikasi dan perilaku yang ditunjukkan oleh perawat dapat menimbulkan trauma pada anak dan anak merasa takut dan cemas setiapkali anak masuk rumah sakit, bahkan anak sangat takut bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi orangtua terhadap kemampuan perawat dalam melakukan komunikasi pada anak usia prasekolah 3-6 tahun di Rumah Sakit XXX. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember – 16 Desember 20xx dengan sampel 30 orang dengan metode pengambilan sampel tehnik purposive sampling sesuai dengan kriteria peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan disajikan dalam analisa statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan persepsi orangtua terhadap kemampuan perawat dalam melakukan komunikasi efektif pada anak usia prasekolah adalah baik sebanyak 22 orang (73.3%). Hasil penelitian ini merupakan evidence yang dapat menjadi informasi tambahan bagi ilmu keperawatan anak.

Keywords: Persepsi Orangtua, Komunikasi

(KODE FILE : DES10)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Imbalan Jasa Terhadap Kinerja Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit XX

Kinerja perawat di Rumah Sakit XXX  dalam memberikan pelayanan kepada pasien mengalami penurunan, sementara imbalan jasa yang mereka terima sudah standar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh imbalan jasa terhadap kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional, dengan jumlah populasi sebanyak 240, sedangkan sampel diambil sebanyak 25% yaitu 60 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner berupa angket dan lembar observasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS versi 14.0 menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (=0,05). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa imbalan jasa yang diterima perawat sebagian besar dalam kategori Cukup (70%), dan kinerja perawat dalam kategori baik (63%). Masih ditemukan 30% responden yang menyatakan bahwa imbalan jasa rendah dan 37% kinerja perawat dalam kategori kurang baik. Hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai probabilitas (p)= 0,003 <0,05, dan nilai X2hitung (9,966) > X2tabel (3,481), berarti ada pengaruh yang bermakna imbalan jasa dengan kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan di Rumah Sakit XXX. Disarankan kepada pihak manajerial Rumah Sakit XXX lebih memperhatikan aspek imbalan jasa bagi perawat dalam bentuk tunjangan-tunjangan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kinerja perawat terutama bagi perawat yang mempunyai kinerja kurang baik.

Keywords:Imbalan Jasa, Kinerja Perawat, Asuhan Keperawatan.

(KODE FILE : DES09)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Motivasi Mahasiswa Akademi Keperawatan XX Untuk Melanjutkan Pendidikan ke Tingkat Sarjana Keperawatan

Motivasi merupakan sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas. Motivasi juga diartikan sebagai kekuatan (energi) penggerak seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah memperoleh kekuatan untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam kehidupan. Selama proses meningkatkan pendidikan keperawatan salah satu diperlukan adalah motivasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi motivasi mahasiswa Akademi Keperawatan XX untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana keperawatan. Penelitian ini dilakukan di Akademi Keperawatan XX, selama bulan November 2009 dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. Cara pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 87 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi yang ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa motivasi mahasiswa Akademi Keperawatan XX untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana keperawatan mayoritas tinggi (73,7 %) dan hanya (37,3 %) yang memiliki motivasi rendah. Dilihat dari jenis motivasi, persentase motivasi intrinsik lebih tinggi (89,7 %), bila dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik yang tinggi (75,3 %).

Keywords: Motivasi Melanjutkan Pendidikan, Mahasiswa

(KODE FILE : DES08)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB Paru di Puskesmas XX Kecamatan XX Kabupaten XX

Indonesia berada di urutan ketiga terbanyak di dunia dalam jumlah penderita TBC dan menjadi penyebab utama kematian setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah telah membuat program khusus penanggulangannya dengan mengadopsi strategi program DOTS yang telah direkomendasikan oleh WHO. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB Paru di Puskesmas XX dengan populasi penderita TB paru yang sedang menjalani program pengobatan, jumlah sampel yang diteliti yaitu 20 orang dengan tehnik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi dan pernyataan yang diukur dengan skala likert. Hasil penelitian menggambarkan persentase yang masih tinggi dalam hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB paru dari aspek pengetahuan (95%), masalah pemakaian obat (70%) dan sikap tidak acuh penderita terhadap penyakitnya(70%).

Keywords:Program Pemberantasan Penyakit TB paru Hambatan Pelaksanaan Program

(KODE FILE : DES06)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Mengunyah Permen Karet Rendah Gula terhadap Peningkatan Sekresi Saliva pada Pasien yang Menjalani Terapi Hemodialisa di RSU XX

Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) dengan komplikasi Gagal Ginjal Terminal (GGT) memiliki ginjal yang telah mengalami penurunan fungsi sampai tidak mampu membuang limbah sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari tubuh. Terapi hemodialisa merupakan tindakan yang tepat untuk menggantikan kerja ginjal meskipun harus dilakukan pembatasan asupan cairan yang mengakibatkan sebagian besar pasien mengeluh mengalami mulut kering. Salah satu cara untuk merawat mulut kering (dry mouth) adalah mengunyah permen karet rendah gula untuk merangsang sekresi saliva. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap peningkatan sekresi saliva pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Kota Langsa tahun 2009 dengan quasy experimen dengan menggunakan rancangan kasus kontrol. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 40 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan tanggal 10 Oktober sampai 10 November 2009. Berdasarkan analisa data didapatkan jumlah sekresi saliva sebelum dilakukan tindakan pada kelompok intervensi rata-rata 0,7 mL/menit (40%) pada kelompok kontrol rata-rata 0,6 mL/menit (55%). Sekresi saliva setelah dilakukan tindakan pada kelompok intervensi seluruhnya meningkat dengan jumlah rata-rata 2,7 mL/menit dan 2,8 mL/menit, masing-masing 20% sedangkan pada kelompok kontrol tidak mengalami kenaikan dengan rata-rata 0,6 mL/menit (75%). Hasil uji korelasi terdapat adanya perbedaan bermakna antara jumlah sekresi saliva pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sebelum dan setelah pemberian tindakan mengunyah permen karet rendah gula dengan nilai p = 0,000 (nilai p  0,05) Dengan demikian perawat yang bertugas di ruang hemodialisa hendaknya dapat lebih proaktif dalam menggali masalah yang dirasakan pasien hemodialisa seperti adanya penurunan sekresi saliva yang menimbulkan sensasi mulut kering sehingga dapat dilakukan upaya-upaya untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Pengetahuan perawat tentang dampak dari tindakan pembatasan cairan pada pasien hemodialisa akan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien sehingga tetap dapat berfungsi seoptimal mungkin dengan keterbatasan yang dimilikinya.

Keywords: Peningkatan Sekresi Saliva.Mengunyah Permen Karet Rendah Gula

(KODE FILE : DES05)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Peran Masyarakat dalam Meningkatkan Status Gizi Anak di Kelurahan XX Kecamatan XX

Masyarakat yang berperan sebagai kader kesehatan masyarakat dioptimalkan melalui pusat kesehatan masyarakat dengan ikut serta dalam berpartisipasi, berkontribusi, dan konseling dalam pelayanan kesehatan. Kader yang berperan untuk konseling dalam masyarakat dengan memberikan informasi berkaitan dengan masalah status gizi anak balita yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Upaya masyarakat dalam meningkatkan status gizi anak, dengan adanya pelatihan kader untuk pelayanan kesehatan, dalam setiap program perbaikan gizi masyarakat, bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam meningkatkan kemandirian masyarakat. Desain penelitian adalah deskriptif studi dengan besar sampel sebanyak 30 orang dengan karekteristik usia (47%), jenis kelamin wanita (100%), status perkawinan menikah (79%), agama kristen protestan (80%), Pendidikan terakhir SMA (47%). Menggunakan metode pengambilan sampel secara total sampling sesuai dengan kriteria peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang yang kategori peran masyarakat tinggi (50%), sedang (33%), rendah (17%). Dilihat dari peran masyarakat terdiri dari bagian pertama partisipasi dalam pelayanan masyarakat (96%), bagian kedua konseling dalam memberikan informasi kesehatan (90%), dan bagian ketiga kontribusi dalam meningkatkan status gizi anak balita di masyarakat (70%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya kesadaran masyarakat dalam meningkatkan status gizi anak dan keterlibatan masyarakat, ikut serta dalam pelayanan kesehatan untuk meningkatkan status gizi anak yang optimal di KelurahanXX Kecamatan XX, kader dapat memandirikan masyarakat dalam masalah kesehatan.

Keywords:Peran Masyarakat Peningkatan Status Gizi Anak Balita

(KODE FILE : DES04)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.