Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol di Desa XX Kecamatan XX Kabupaten XX

Pola asuh orang tua adalah merupakan suatu bentuk atau struktur, sistem dalam menjaga, m erawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Membimbing atau mendidik merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol yang mempunyai tingkatan kebiasaan coba-coba, pengguna tetap, dan kecanduan. Populasi penelitian adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan remaja yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol yaitu sebanyak 42 KK. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa XXX Kecamatan XXX. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe pola asuh orang tua demokratis dengan tingkat persentase sebanyak 71,43% dan pola asuh orang tua permisif 19,05% dan pola asuh orang tua otoriter sebanyak 9,52%. Untuk tingkat kebiasaan remaja mengkonsumsi alkohol yaitu 66,67% untuk tingkat coba-coba, 30,95% untuk tingkat pengguna tetap, dan 2,38% untuk tingkat kecanduan. Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja pada tingkat coba-coba dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua demokratis, tingkat pengguna tetap dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua otoriter, dan tingkat kecanduan dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua permisif.

Keywords:Pola Asuh Orang Tua, Kebiasaan Remaja, Mengkonsumsi Alkohol

(KODE FILE : DES16)

Iklan
This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Kepuasan Orangtua Terhadap Atraumatic Care Selama Mengalami Hospitalisasi di RSUP XX

Hospitalisasi bagi anak dan keluarga adalah suatu pengalaman yang mengancam dan stressor, keduanya dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga. Umumnya orangtua yang anaknya mengalami hospitalisasi akan bersikap penolakan, ketidakpercayaan akan penyakit anaknya, marah, dan rasa bersalah karena tidak mampu merawat anaknya, rasa takut,cemas,frustasi, dan depresi. Di samping masalah hospitalisasi juga timbul sikap kepuasan dalam menerima pelayanan dari setiap tindakan perawatan yang diberikan pada anak, pelayanan yang diberikan dapat berupa atraumatic care atau perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak. Atraumatic care mempunyai tujuan mencegah atau menimbulkan perpisahan anak dari orangtua, meningkatkan kontrol diri, dan mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. Sikap pelayanan yang diberikan perawat berupa atraumatic care pada anak menimbulkan sikap kepuasan orangtua yang merawat dan menjaga anak selama anak mengalami hospitalisasi. Sikap kepuasan orangtua dapat diwujudkan dalam bentuk penilaian sangat puas, puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Desain penelitian ini yang digunakan adalah deskriptif dengan jumlah sampel sebesar 86 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi dan pernyataan berjumlah 30 buah pernyataan. Hasil penelitian Kepuasan Orangtua Terhadap Atraumatic care Selama Anak Mengalami Hospitalisasi di RSUP XXX, menunjukkan pencapaian kepuasan hingga 89%. Dari pencapaian nilai tersebut maka dapat disimpulkan kepuasan orangtua terhadap atraumatic care selama anak mengalami hospitalisasi adalah orangtua mendapat kepuasan terhadap atraumatic care.

Keywords: Kepuasan, Atraumatic care

(KODE FILE : DES15)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Terhadap Kemampuan Komunikasi Pasien Isolasi Sosial di Ruang Cempaka Rumah Sakit Jiwa Daerah XX

Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan jiwa. Satu diantaranya adalah isolasi sosial, supaya dapat mewujudkan jiwa yang sehat, maka perlu adanya peningkatan jiwa melalui pendekatan secara promotif, preventif dan rehabilitatif agar individu dapat senantiasa mempertahankan kelangsungan hidup terhadap perubahan – perubahan yang terjadi pada dirinya maupun pada lingkungannya. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial, yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial. Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan cara time series yang dilakukan pada 15 orang responden dengan menggunakan instrument observasi dengan masalah utama isolasi sosial. Analisa data yang digunakan yakni t test yaitu uji dependen t test untuk menilai pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi (p=0,000) artinya mempunyai pengaruh yang signifikan. Terapi aktivitas kelompok sangat efektif didalam meningkatkan kemampuan komunikasi pasien isolasi sosial, sebab itu terapi aktivitas kelompok sosialisasi sebaiknya dilakukan secara reguler di tiap ruang rawat inap RSJ Daerah XXX.

Keywords: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi, Kemampuan Komunikasi, Isolasi Sosial

(KODE FILE : DES14)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Konsep Diri Anak Usia 10-14 Tahun yang Menderita Asma di Poliklinik Anak RSU XX

Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada jalan napas tempat banyak sel ( sel mast, eosinofil, dan limposit T) memegamg peranan. Pada penderita asma dapat terjadi perubahan baik fisik maupun psikologi. Perubahan fisik dan psikologis yang dialami anak penderita asma dapat menyebabkan perubahan konsep diri yaitu citra tubuh, identitas diri, harga diri, ideal diri dan gangguan peran. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang konsep diri anak usia 10-14 tahun yang menderita asma yang dilakukan mulai bulan September hingga November 20xx di Poliklinik RSU. XXX. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, untuk mengidentifikasi gambaran konsep diri anak usia 10 – 14 tahun yang menderita asma di Poliklinik Anak RSU.XXX. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi dan kuesioner konsep diri anak yang menderita asma. Jumlah sampel sebanyak 35 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik Total Sampling. Hasil penelitian mengenai karakteristik responden yaitu paling banyak anak yang menderita asma berusia 10 tahun ada sebanyak 10 orang (28,6%), dan paling sedikit anak berusia 14 tahun ada sebanyak 4 orang (11,4%). Konsep diri anak yang menderita asma pada usia 10-14 tahun paling banyak bersikap negatif ada sebanyak 22 orang (37,1%) dan yang bersikap positif ada sebanyak 13 orang (62,9%), tetapi salah satu komponen konsep diri yaitu ideal diri termasuk memuaskan. Artinya bahwa penyakit asma tidak mempengaruhi persepsi orang lain tentang dirinya. Untuk disarankan bagi praktek keperawatan agar dapat memberikan motivasi dan semangat bagi anak yang menderita asma agar mempunyai konsep diri yang positif, juga menjaga kondisi kesehatannya dengan melakukan pengobatan yang intensif dan dapat memberikan penanganan dari segi kuratif, juga interaksi anak penderita asma dengan lingkungan sosialnya di masyarakat.

Keywords: Anak Usia 10-14 Tahun, Menderita Asma, Konsep Diri

(KODE FILE : DES13)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Kepuasan Remaja Terhadap Peran Orangtua Dikelurahan XX

Kepuasan remaja terhadap peran orangtua sangat berpengaruh karena kepuasan remaja memberikan gambaran masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang demikian pesat sering kali mengakibatkan timbulnya prilaku menyimpang. Jadi orangtua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan remaja di kelurahan XXX pada tanggal 21 Nopember 20xx, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif yang menggambarkan suatu keadaan atau fenomena tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di kelurahan XXX dengan besar sampel sebanyak 40 responden. Metode pengambilan sampling penelitian ini adalah dengan cara teknik random sampling. Kuisioner penelitian terdiri dari kuisioner data demografi, kepuasan, peran orangtua dalam keluarga. Berdasarkan analisa statistik, hasil penelitian menunjukan bahwa hasil penelitian sebagian besar remaja memiliki kepuasan tentang peran orangtua dalam keluarga (n=21, 52,5%), untuk kepuasan remaja terhadap peran orangtua dalam keluarga memiliki kepuasan cukup (n=16, 40%), dan untuk kepuasan remaja terhadap peran orangtua memiliki kepuasan kurang (n=3, 7,5%). Untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul penelitian ini disarankan untuk meneliti untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara kepuasan terhadap peran orangtua dalam keluarga.

Keywords: Peran orangtua, Kepuasan Remaja

(KODE FILE : DES12)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Diri Ibu Pascasalin di Rumah Sakit Umum XX

Perawatan diri pascasalin adalah perawatan terhadap wanita yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Kurangnya perawatan diri masa pascasalin berhubungan erat dengan kejadian infeksi nifas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin yaitu faktor masa lalu, faktor lingkungan, faktor internal, faktor petugas kesehatan, dan faktor pendidikan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin serta mengidentifikasi faktor apa yang paling dominan dalam mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin. Penelitian ini dilakukan pada 13 November-15 Desember 2009 di Ruang V Obgin Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan terhadap 61 orang responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin serta menggunakan metode korelasi analisa regresi linear ganda dengan sistem backward untuk mengidentifikasi faktor apa yang paling dominan dalam perawatan diri Ibu pascasalin. Hasil penelitian diperoleh 46 responden (75,4%) menunjukkan faktor petugas kesehatan berpengaruh kuat terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri Ibu pascasalin. Faktor yang paling dominan adalah faktor petugas kesehatan dengan nilai F hitung > F tabel (8,376 > 4,00) dan nilai p-value < sig (0,005 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini perawat hendaknya mampu menjalankan peran dan fungsinya sesuai kompetensi dan kebutuhan pasien.

Keywords: Ibu Pascasalin, Faktor Perawatan Diri

(KODE FILE : DES11)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Persepsi Orangtua Terhadap Kemampuan Perawat dalam Melakukan Komunikasi Efektif pada Anak Masa Prasekolah di Ruang XX Rumah Sakit XX

Komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua atau lebih manusia, atau dengan kata lain pertukaran ide dan pikiran. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mengandung pengiriman dan penerimaan informasi yang paling cermat. Komunikasi dan perilaku yang ditunjukkan oleh perawat dapat menimbulkan trauma pada anak dan anak merasa takut dan cemas setiapkali anak masuk rumah sakit, bahkan anak sangat takut bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi orangtua terhadap kemampuan perawat dalam melakukan komunikasi pada anak usia prasekolah 3-6 tahun di Rumah Sakit XXX. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember – 16 Desember 20xx dengan sampel 30 orang dengan metode pengambilan sampel tehnik purposive sampling sesuai dengan kriteria peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan disajikan dalam analisa statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan persepsi orangtua terhadap kemampuan perawat dalam melakukan komunikasi efektif pada anak usia prasekolah adalah baik sebanyak 22 orang (73.3%). Hasil penelitian ini merupakan evidence yang dapat menjadi informasi tambahan bagi ilmu keperawatan anak.

Keywords: Persepsi Orangtua, Komunikasi

(KODE FILE : DES10)

This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.