Pengaruh Imbalan Jasa Terhadap Kinerja Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit XX

Kinerja perawat di Rumah Sakit XXX  dalam memberikan pelayanan kepada pasien mengalami penurunan, sementara imbalan jasa yang mereka terima sudah standar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh imbalan jasa terhadap kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional, dengan jumlah populasi sebanyak 240, sedangkan sampel diambil sebanyak 25% yaitu 60 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner berupa angket dan lembar observasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS versi 14.0 menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (=0,05). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa imbalan jasa yang diterima perawat sebagian besar dalam kategori Cukup (70%), dan kinerja perawat dalam kategori baik (63%). Masih ditemukan 30% responden yang menyatakan bahwa imbalan jasa rendah dan 37% kinerja perawat dalam kategori kurang baik. Hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai probabilitas (p)= 0,003 <0,05, dan nilai X2hitung (9,966) > X2tabel (3,481), berarti ada pengaruh yang bermakna imbalan jasa dengan kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan di Rumah Sakit XXX. Disarankan kepada pihak manajerial Rumah Sakit XXX lebih memperhatikan aspek imbalan jasa bagi perawat dalam bentuk tunjangan-tunjangan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kinerja perawat terutama bagi perawat yang mempunyai kinerja kurang baik.

Keywords:Imbalan Jasa, Kinerja Perawat, Asuhan Keperawatan.

(KODE FILE : DES09)

Iklan
This entry was posted on 28/03/2016, in ABSTRAK.

Motivasi Mahasiswa Akademi Keperawatan XX Untuk Melanjutkan Pendidikan ke Tingkat Sarjana Keperawatan

Motivasi merupakan sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas. Motivasi juga diartikan sebagai kekuatan (energi) penggerak seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah memperoleh kekuatan untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam kehidupan. Selama proses meningkatkan pendidikan keperawatan salah satu diperlukan adalah motivasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi motivasi mahasiswa Akademi Keperawatan XX untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana keperawatan. Penelitian ini dilakukan di Akademi Keperawatan XX, selama bulan November 2009 dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. Cara pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 87 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi yang ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa motivasi mahasiswa Akademi Keperawatan XX untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana keperawatan mayoritas tinggi (73,7 %) dan hanya (37,3 %) yang memiliki motivasi rendah. Dilihat dari jenis motivasi, persentase motivasi intrinsik lebih tinggi (89,7 %), bila dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik yang tinggi (75,3 %).

Keywords: Motivasi Melanjutkan Pendidikan, Mahasiswa

(KODE FILE : DES08)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Hambatan Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit TB Paru di Puskesmas XX Kecamatan XX Kabupaten XX

Indonesia berada di urutan ketiga terbanyak di dunia dalam jumlah penderita TBC dan menjadi penyebab utama kematian setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah telah membuat program khusus penanggulangannya dengan mengadopsi strategi program DOTS yang telah direkomendasikan oleh WHO. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB Paru di Puskesmas XX dengan populasi penderita TB paru yang sedang menjalani program pengobatan, jumlah sampel yang diteliti yaitu 20 orang dengan tehnik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi dan pernyataan yang diukur dengan skala likert. Hasil penelitian menggambarkan persentase yang masih tinggi dalam hambatan pelaksanaan program pemberantasan penyakit TB paru dari aspek pengetahuan (95%), masalah pemakaian obat (70%) dan sikap tidak acuh penderita terhadap penyakitnya(70%).

Keywords:Program Pemberantasan Penyakit TB paru Hambatan Pelaksanaan Program

(KODE FILE : DES06)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Pengaruh Mengunyah Permen Karet Rendah Gula terhadap Peningkatan Sekresi Saliva pada Pasien yang Menjalani Terapi Hemodialisa di RSU XX

Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) dengan komplikasi Gagal Ginjal Terminal (GGT) memiliki ginjal yang telah mengalami penurunan fungsi sampai tidak mampu membuang limbah sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari tubuh. Terapi hemodialisa merupakan tindakan yang tepat untuk menggantikan kerja ginjal meskipun harus dilakukan pembatasan asupan cairan yang mengakibatkan sebagian besar pasien mengeluh mengalami mulut kering. Salah satu cara untuk merawat mulut kering (dry mouth) adalah mengunyah permen karet rendah gula untuk merangsang sekresi saliva. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap peningkatan sekresi saliva pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Kota Langsa tahun 2009 dengan quasy experimen dengan menggunakan rancangan kasus kontrol. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 40 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan tanggal 10 Oktober sampai 10 November 2009. Berdasarkan analisa data didapatkan jumlah sekresi saliva sebelum dilakukan tindakan pada kelompok intervensi rata-rata 0,7 mL/menit (40%) pada kelompok kontrol rata-rata 0,6 mL/menit (55%). Sekresi saliva setelah dilakukan tindakan pada kelompok intervensi seluruhnya meningkat dengan jumlah rata-rata 2,7 mL/menit dan 2,8 mL/menit, masing-masing 20% sedangkan pada kelompok kontrol tidak mengalami kenaikan dengan rata-rata 0,6 mL/menit (75%). Hasil uji korelasi terdapat adanya perbedaan bermakna antara jumlah sekresi saliva pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sebelum dan setelah pemberian tindakan mengunyah permen karet rendah gula dengan nilai p = 0,000 (nilai p  0,05) Dengan demikian perawat yang bertugas di ruang hemodialisa hendaknya dapat lebih proaktif dalam menggali masalah yang dirasakan pasien hemodialisa seperti adanya penurunan sekresi saliva yang menimbulkan sensasi mulut kering sehingga dapat dilakukan upaya-upaya untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Pengetahuan perawat tentang dampak dari tindakan pembatasan cairan pada pasien hemodialisa akan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien sehingga tetap dapat berfungsi seoptimal mungkin dengan keterbatasan yang dimilikinya.

Keywords: Peningkatan Sekresi Saliva.Mengunyah Permen Karet Rendah Gula

(KODE FILE : DES05)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Peran Masyarakat dalam Meningkatkan Status Gizi Anak di Kelurahan XX Kecamatan XX

Masyarakat yang berperan sebagai kader kesehatan masyarakat dioptimalkan melalui pusat kesehatan masyarakat dengan ikut serta dalam berpartisipasi, berkontribusi, dan konseling dalam pelayanan kesehatan. Kader yang berperan untuk konseling dalam masyarakat dengan memberikan informasi berkaitan dengan masalah status gizi anak balita yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Upaya masyarakat dalam meningkatkan status gizi anak, dengan adanya pelatihan kader untuk pelayanan kesehatan, dalam setiap program perbaikan gizi masyarakat, bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam meningkatkan kemandirian masyarakat. Desain penelitian adalah deskriptif studi dengan besar sampel sebanyak 30 orang dengan karekteristik usia (47%), jenis kelamin wanita (100%), status perkawinan menikah (79%), agama kristen protestan (80%), Pendidikan terakhir SMA (47%). Menggunakan metode pengambilan sampel secara total sampling sesuai dengan kriteria peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang yang kategori peran masyarakat tinggi (50%), sedang (33%), rendah (17%). Dilihat dari peran masyarakat terdiri dari bagian pertama partisipasi dalam pelayanan masyarakat (96%), bagian kedua konseling dalam memberikan informasi kesehatan (90%), dan bagian ketiga kontribusi dalam meningkatkan status gizi anak balita di masyarakat (70%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya kesadaran masyarakat dalam meningkatkan status gizi anak dan keterlibatan masyarakat, ikut serta dalam pelayanan kesehatan untuk meningkatkan status gizi anak yang optimal di KelurahanXX Kecamatan XX, kader dapat memandirikan masyarakat dalam masalah kesehatan.

Keywords:Peran Masyarakat Peningkatan Status Gizi Anak Balita

(KODE FILE : DES04)

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.

Dukungan Petugas Kesehatan dalam Pelaksanaan Program UKS pada SD Negeri di Kecamatan XX Kabupaten XX

Usaha Kesehatan Sekolah adalah upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah, perguruan agama serta usaha yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan petugas kesehatan dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XX Kabupaten XX. Desain penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan yang bertugas di Puskesmas Kecamatan XX berjumlah 51 orang dari berbagai profesi dibidang kesehatan dengan menggunakan tehnik total sampling. Penelitian ini telah dilaksanakan dari tanggal 3-25 Agustus 2009 dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi dan dukungan pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah di Sekolah Dasar. Dukungan petugas kesehatan Puskesmas dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XX berada pada kategori tinggi (71%) dan sebanyak (29%) berada pada kategori rendah, hal ini menggambarkan bahwa dukungan petugas kesehatan sangat dibutuhkan dalam tercapainya pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah di Sekolah Dasar. Keadaan ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan oleh petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Kecamatan XX serta dapat menjadi bahan bagi petugas kesehatan di Puskesmas lain khususnya tenaga perawat komunitas dalam melaksanakan Program UKS di tingkat Sekolah Dasar.

Keywords: Dukungan Petugas Kesehatan Program UKS

(KODE FILE  : DES03)

 

This entry was posted on 26/03/2016, in ABSTRAK.